Pages

Senin, 10 Juni 2013

PostHeaderIcon Harapanku Tidak akan Pernah Padam

Saya merindu untuk menjadi seorang guru ... :')

Teringat ketika usia masih sangat muda belia, masa TK dan SD. Belajar dan mengajar. Buku alpabet bersampul putih selalu menjadi teman hari-hariku. Duduk manis ditangga ditemani ibu yang sedang mengayak beras. Membaca dengan suara lantang dan sesekali ibu membetulkan. Bapak dan Ibu sering membelikanku buku agar aku fasih membaca. Tidak heran usiaku yang belum genap 7 tahun aku sudah pandai membaca dan berhitung.

Mengajar...
Aku memulainya ketika aku duduk dibangku taman kanak-kanak. Bersama tetangga yang sebaya dan adik-adik yang tidak terpaut jauh usianya, belajar bersama dirumah. Aku menjadi guru dan mereka menjadi muridku. Aku ingat kala itu ada papan tulis dan satu dos kapur warna warni serta penghapus yang nangkring ditembok ruang tamuku. Berlagak bak seorang guru aku mengajarkan mereka membaca dan menghitung.

1 + 1 =2
2 x 1 = 2

INI APEL ...
ITU BUKU ...
KITA SEDABG BELAJAR ...

Tidak cukup disitu, tidak hanya sekedar membaca dan berhitung. Bahkan ketika teman-teman mendapat PR dari sekolah akulah yang disuruh mereka untuk mengajarkan. Meskipun materi telah berbeda, tetap aja aku iyakan, dan alhamdulillah hasilnya memuaskan. :)

Pernah suatu hari, ibu temanku dari RT sebelah memintaku untuk mengajarkan anaknya matematika. Ya, kebetulan aku memang sangat suka matematika kala itu. Aku ajari temanku itu meskipun harus perlahan. 

Masa SD berlalu ... tetapi kegemaranku tak akan pernah berlalu.
SMP dan SMA sudah tidak sesering dulu, kini giliran aku yang berguru. Ikut les privat matematika setiap malam selama 4 tahun membuatku semakin cinta dengan guru dan matematika. Cita-citaku tidak padam ...

Ada hal yang tidak terlupa. Kakak-kakak KKN-PPL sekolah. Setiap mereka datang ke sekolah dan membantu mengajar, aku selalu membayangkan kelak aku akan seperti mereka. Ke sekolah-sekolah membantu guru mengajar siswa. Bayangan sekolah pun telah ada, mau model mengajar seperti apa telah disiapkan. Tetapi sayang itu hanya sekedar bayangan yang tidak akan menjadi nyata. 

Niat untuk orang tua mengalahkan segalanya. 

Aku masuk ditempat dimana orang tuaku dapat tersenyum dan berbangga. Tetapi tidak denganku yang diam-diam masih melirik mimpi laluku. Menyesal tiada guna, Allah Maha Perencana yakinku. Tiada cerita tanpa makna, tiada pilihan tanpa hikmah. 

Kini, dalam lubuk hati yang kecil mimpiku masih bersemi. Bersama semangat optimis yang terus kuyakini, bahwa Allah akan memberiku suatu hal. Mungkin meskipun mimpiku hanya sekedar mimpi, aku yakin Allah akan menggantinya dengan perihal yang lebih indah.

Khusnudzon kepada Allah, penguat jiwa penentram hati ...

Guru ... engkau tetap akan menjadi mimpiku hingga raga terkubur nanti. :'D



0 komentar:

Posting Komentar

Foto Saya
Azahra Bustan
Lihat profil lengkapku

Pengunjung

Blog Archive

Visitor

Flag Counter

Follow Me

Diberdayakan oleh Blogger.