Pages

Rabu, 18 Juli 2012

PostHeaderIcon Antara Prinsip, Mimpi, dan Nafsu


Aku tak tau apa yang sedang terjadi. Ya, aku tak tau. Jika yang lain menganggapnya mudah, bagi ku itu susah. Bukan, bukan karena aku tak mau. Salah !. Ini kembali pada prinsip dan mimpiku. Terlalu naif jika aku tak mengakuinya. Tapi... ini terlalu berat. 

Susah sekali untuk berbicara, mungkin karena gengsi. Oooh, bukan. aku menjaga diri. Bukan bermaksud ingin sok alim, sungguh bukan.

Aku tau siapa diriku. 
Aku tau apa mau ku. 
Aku tau apa yang harus aku lakukan. 

Ingatan sebuah tulisan dikertas itu. Sekali lagi aku mengingatnya. 

"Fatimah Azahra", ya Beliau. 

Bukankah aku terinspirasi dengan cerita beliau ? bukankah aku ingin seperti beliau?

Cintanya yang diam berujung janji surga untuknya. Bunda... aku ingin seperti bunda. Putri baginda Rasul yang teramat sayang. Cinta diam mu pada sang Ali, pemuda miskin yang sederhana. Kau hebat Bunda, kemampuanmu tak membuatmu sombong dan memilih laki-laki yang jauh lebih hebat dari Ali. Aku ingin seperti mu...


Aku yakin...
Bukan harta yang aku cari.
Bukan ketampanan yang aku pilih.
Kesederhanaan dan ketakwaan. hanya itu...

Sungguh, sama sekali tak pernah aku memilih karena harta karena aku yakin bukan harta yang mampu membahagiaanku. Sungguh, sama sekali bukan ketampanan yang aku pilih karena aku yakin tampan itu akan pudar dengan seiringnya waktu. Namun, iman... takwa itu akan abadi hingga ujung usia nanti.

Waktu terus berlalu, seiring dengan masa lalu. Kenapa aku selalu menoleh dan mempermasalahkan yang lalu ? Mungkin aku takut. Ya, aku takut. Aku takut menyakiti yang lalu, walaupun belum sekalipun aku mengenalnya. Kenapa aku harus merasa bersalah ? Padahal itu semua bukan salahku. Entah, aku merasa begitu. 

Aku takuut...
Aku takuut...

Akan sebuah rasa sakit. Mungkin aku trauma. Ya, bisa jadi. Kenapa kata "yakin" itu tak kunjung hadir. Heemt, mungkin karena rasa takut. Ya, Takut. Bukan berarti aku belum bisa memaafkan. Karena dulu memang aku yang salah. Tapi aku hanya berhati-hati. Karena aku ingin satu. Satu untuk selamanya.

Usaha... 
Aku penikmat proses, aku sangat menghargai akan sebuah usaha dari setiap proses. Ibarat matematika dimana proses lah yang dinilai sedangkan hasil hanyalah sebuah bonus dari setiap proses.

Tapi usaha seperti apakah yang aku maksud ? Bukan seberapa besar usahamu mendekatiku. sungguh, bukan itu. Tapi usaha memperbaiki dirimulah yang aku maksud. Aku suka dengan orang yang taat, namun bukan berarti juga harus seorang ustadz. Cukup cintai Dia dan Rasulnya, membuktikan rasa cinta itu dengan ketaatan. Aku ingin kita sama-sama menjaga. Walaupun terkadang itu susah. Ya, aku menyadarinya. "Setan itu licik akalnya bulus" ingatkah ? aaah, cukup aku pusing. Kita jalani aja apa yang ada. Semoga Allah menjadikan ini kisah yang indah. Aku tidak menunggumu... Aku tidak akan menunggumu. Aku menunggu perubahanmu, agar Allah meridhoi :)

0 komentar:

Posting Komentar

Foto Saya
Azahra Bustan
Lihat profil lengkapku

Pengunjung

Blog Archive

Visitor

Flag Counter

Follow Me

Diberdayakan oleh Blogger.