Kamis, 08 November 2012
Romansa Kehidupan : Istiqomah Atau Tidak
21.51.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
Hati begitu mudah menangis dan tertawa namun beginilah perasaan, tidak akan pernah ada yang tahu muaranya. Pasang surut, sebentar senang sebentar sedih. Mungkin ini nikmat dari sebuah rasa.
Allah, tiada tempat yang paling tepat untuk menyerahkan semua perasaan kecuali hanya pada Nya.
Allah, tiada tempat yang paling tepat untuk menyerahkan semua perasaan kecuali hanya pada Nya.
PelukanNya begitu nyata ketika kau menangis dihadapanNya.
DekapanNya begitu menenangkan ketika getaran hati menjelma menjadi sebuah doa panjang yang penuh harap.
Dia Yang Maha Tahu segalanya. Semua isi hati yang tidak semua orang bisa merasa. Semua harapan terkecil yang mungkin kita sendiri telah melupakannya.
Aku tidak mengerti ketika sebuah rasa hadir menyelimuti jiwa, begitu hangat namun terkadang terasa teramat dingin. Aku sungguh tidak mengerti akan sebuah hati yang dengan mudah dibolak-balik, hanya dengan sebuah peristiwa yang terkadang kita sendiri tidak pernah menyadari.
Allah begitu mudah memberikan sebuah rasa, namun Dia juga mudah untuk menghilangkan sebuah rasa.
Bak tertampar, hati terasa pilu. Ada goresan kepedihan dan kebimbangan. Allah, untuk berada dijalur lurus Mu mengapa begitu susah ? Istiqomah tak semudah mengucapkannya. Dia tahu mimpiku aku sangat yakin itu. Dia tahu apa yang membuat perasaan ini tiba-tiba hadir menyeruak di dalam kalbu. Dia tahu segalanya, ya Dia Maha Tahu.
Melihat mereka yang sedang dilanda rasa bahagia, berdekatan dengan orang yang dicintainya, atau bahkan mungkin sudah menjalin hubungan, membuatku sedikit terlena akan sebuah harapan. Hampir saja, hampir. Aku memang manusia biasa yang masih mudah tergoda oleh bujuk rayu setan. Setan bulus yang akalnya licik, sangat licik. Sebuah harapan yang seharusnya jangan terbenak didalam pikiran.
Bukankah aku percaya takdir ? takdir hidup yang telah tertulis saat aku masih berada dalam rahim, saat aku bersaksi bahwa Allah adalah Tuhanku dan Muhammad adalah nabiku. Kesedihan, kesenangan, kematian, bahkan kelahiran semuanya telah tertulis di Lauhul Mahfuzd, bahkan doa yang dipanjatkan adalah bagian dari rentetan takdir yang harus dijalani. Namun kenapa aku masih meragu dan tidak istiqomah berjalan dijalurku?
Ibu, bapak...aku teringat mimpiku...
Sebuah persembahan khusus untuk mereka, mahkota kebesaran....
"Ini ya Allah, ini ya Rasul, lihatlah ada mahkota kebesaran diatas kepala kami. Hadiah dari anak kami satu-satunya. Begitu indah, besar dan bersinar. Lihatlah Nabiku, aku tidak lama berada dineraka, sebentar saja siksaan itu merajam tubuh walaupun dosa telah menumpuk dan mungkin hanya akan terbanyar ketika pintu surga akan Engkau tutup. Lihatlah, semua ini berkat anak ku, anak yang kami besarkan dengan penuh pengorbanan dan inilah balasannya."
kata-kata yang membuat para orangtua iri dan menangis, "Anak ku, mana bukti cintamu pada ku ?"
Ya Allah, jika tetesan air mataku mampu menebus tiket keistiqomahanku akan ku berikan seluruh air mata ini hanya untuk Mu. Namun, ijinkanlah mereka berucap itu dihadapan Mu ...
Kata-kata yang akan terucap ketika pertanggungjawaban itu tiba. Pertanggungjawaban atas akhlak yang terbentuk dalam diriku. Aku tidak ingin melihat mereka bersedih karenaku, karena kelalaianku, karena kekhilafanku, karena kekotoran hatiku. Aku tidak rela.... Tega kah aku, didunia saja belum tentu aku mampu membanggakan mereka apakah diakhirat aku juga tidak bisa membanggakan mereka, padahal kesempatan itu hadir begitu banyak?
Merinding....
Apakah hanya karena seseorang yang mengetuk pintu jiwa, seseorang yang belum tentu menjadi teman hidup sepanjang masa menghancurkan semua mimpi dan harapanku. Allah, jaga aku.
Cukup Engkau saja yang tahu apa isi doaku dan aku akan selalu percaya keajaiban doa. Bukankah kun fayakun berlaku bagi yang percaya ???
Jangan sampai terucap kata penyesalan karena pasti itu menyakitkan.
Daddy Corbuzier pernah berkata " jika kamu menyesal akan pilihan yang telah kamu pilih, lihatlah kebelakang, pasti pernah ada orang yang telah mengingatkanmu sebelumnya." kata-kata yang mengingatkanku akan restu seseorang. Terbayang-banyang dan selalu terpikirkan. Takut ini akan menjadi bumerang. Allah, tuntunlah aku...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar