Senin, 24 September 2012
Yang Tak Pernah Dia Tahu
19.59.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
Aku dan dia...
bersama dalam proses, hingga akhirnya kami terpisah pada batas yang sangat tegas. Sebuah kemantapan hati tentang perjalanan. Jalan kanan dan kiri. Walaupun perjalanan ini nantinya berlabuh pada hati yang sama. Semuanya pilihan, dan aku meyadarinya.
bersama dalam proses, hingga akhirnya kami terpisah pada batas yang sangat tegas. Sebuah kemantapan hati tentang perjalanan. Jalan kanan dan kiri. Walaupun perjalanan ini nantinya berlabuh pada hati yang sama. Semuanya pilihan, dan aku meyadarinya.
Ikhlas, sebenarnya tak pernah terucap kata ikhlas. Bukan karena jalan kami yang berbeda. Namun karena sebuah perubahan. Perubahan yang tak ku suka. Memang ku akui sejak pertama kekaguman itu ada padanya, semua-semuanya selalu menjadi pilihannya. Dia dan 'dia', seseorang yang menjadi panutannya.
Apa alasanku tak menyukai 'nya' ?
Mungkin hatiku yang akan menjawab.
'Seseorang' yang tak pernah ada feel ketika bertemu. Meskipun selalu kucoba, namun tetap saja aku dan 'dia' tak pernah menyatu.
Bertahan, awalnya mencoba untuk bertahan, demi menjaganya, seseorang yang amat ku sayang. Namun akhirnya aku menyerah. Ku putuskan untuk pergi dari lingkungannya. Pergi dengan membawa kekecewaan. Pergi dengan merelakan dia tetap bersama 'nya'.
Kini, dia seperti 'nya'. Mirip.
Aku hanya bisa mengelus dada, memendam semua ketidakikhlasan berbalut kekecewaan.
Memang perubahannya baik, namun aku tetap tak suka. Cara 'nya', sikap 'nya', merubah dia seperti ini. Inginku melarang, tapi apadaya aku menyadari dimana posisiku. Dia telah masuk dalam lingkungannya, dan sulit untuk kembali membawanya.
Kini, aku tetap berada posisiku. Menahan semua rasa yang ada. Dengan masih menjaga status kami, kakak dan adik. Mendengarkan semua keluh kesahnya walaupun aku tau dia tetap berbagi dengan 'nya'. Mendengarkan banyak nasehat 'nya' dan langsung menuruti perintah 'nya'. Huumt, mungkin karena 'dia' lebih tua dariku, sehingga dia lebih percaya 'dia' daripada aku.
Sudahlah...sudahlah...ku tepuk-tepuk pundakku.
"Tegar" kataku.
Dia sudah besar, tentu sudah pandai memilih jalan yang benar.
Sedih ku mendengarnya. Karena aku masih merasa dia masih butuh bimbingan. Dan aku ingin memberinya. Adikku.... Jika kau tau isi hatiku, Aku tak ikhlas kau seperti murobi mu... :'(
sebuah catatan untuk adik tercinta, adik yang sedang berproses menjadi dewasa...
#NP#
Label:
Cerita ku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar