Kamis, 16 Agustus 2012
Aku, Kamu, Dan Mereka Punya Pilihan, Hargailah !!
23.16.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
Hati tiba-tiba gak ikhlas ketika mengingat seorang teman diawal Ramadhan ini berkata sesuatu yang membuat dongkol setengah mati ... (astagfirullah, maap ye...)
Waktu itu puasa pertama di Ramadhan 1433 H dan saya ikut puasa yang paling awal. Saat saya mau sholat ahar di mushola Fakultas tercinta, tiba-tiba ada teman saya yang tanya.
"puasa kapan wul ?"
"sekarang", jawabku
"wah pasti ikut lingkungan ya..." cerocos dia.
Jleb...kata-kata itu bener-bener menyinggung hati. Seakan-akan puasa pilihannya itu benar (kebetulan dia gak puasa bareng saya). Memang saya gak punya pendirian apa kok dibilang ngikut-ngikut. Saya dikaruniai pikiran sama Allah untuk saya memilih, menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang cocok dan mana yang gak cocok.
Sontak saya jawab, "gak, aku ikut Muhammadiyah *** (maaf sensor nama), dari dulu aku ikut Muhammadiyah." jawab saya sewot, berharap dia ngrasa kalau saya tersinggung.
Saya paling gak suka kalau disindir masalah itu, walaupun itu cuma candaan. Menurut saya itu bukan sesuatu yang pantas untuk dijadikan candaan. Setiap orang berhak untuk memilih apa yang sekiranya pantas untuk diikuti. Jika pilihan tak sama, ya sudah diam. Bukankah diantara tanda kedewasaan akal adalah
menjauhi berdebat saat bertemu yang pandir dan banyak mendengar saat
bertemu yang faqih (ust. Felix Siauw).
Masalah seperti ini banyak banget terjadi dimasyarakat. Menganggap bahwa 'kelompok' yang diikutinya adalah yang paling benar dan menyalahkan 'kelompok' lain. Inilah yang menyebabkan perpecahan dikalangan umat Islam sendiri. Bukankah dari dulu kita diajari toleransi, menghargai setiap perbedaan selama perbedaan itu tidak menimbulkan mudhorot yang besar ?
Saya tidak tau teman saya itu ikut 'kelompok' yang mana. Hanya yang saya sesalkan adalah sikapnya. Tidak bisakah berbicara sedikit lebih sopan ? Mungkin benar, kami dibesarkan didaerah yang berbeda, otomatis culture yang dibawa pun juga berbeda. Namun, bukankah dari kecil kita diajarkan tentang adaptasi, menyesuaikan tempat dimana kita berada. Ini bukan daerah dimana setiap orang bisa berbicara seenak udelnya tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Culture kami berbeda. Kami sangat menghormati setiap orang yang kami temui, menjaga agar tak ada luka yang membekas ketika mereka meninggalkan tempat ini. Kami ingin daerah ini selalu ada di hati mereka sebagai tempat yang selalu mereka rindukan. Ya, inilah didikan didaerah kami.
Sebenarnya masalah seperti ini pernah menjadi masalah hebat antara saya, teman saya, sahabat saya, bahkan mbak-mbak yang sering disebut sebagai murobi. Maaf sebelumnya jika tulisan saya ini menyinggung pembaca sekalian. Bukan maksud saya ingin menjelekkan, namun tujuan saya menulis ini karena saya ingin adanya toleransi tanpa paksaan jika perbedaan itu ada ditengah-tengah kita. Saya sudah terlalu geram dengan masalah ini.
Waktu itu saat saya sedang berproses mencari jati diri, dan saat itu pula kejadian itu datang menghampiri. Saya dari kecil memang dibesarkan dilingkungan Muhammadiyah, walaupun orangtua saya tidak menjugde bahwa kami adalah orang Muhammadiyah. Saat itu ketika saya masuk dalam salah satu organisasi keagamaan di fakultas saya, entah kenapa tanpa sadar saya digiring untuk masuk dalam suatu paham 'kelompok' tertentu. Waktu itu saya masih ikut saja, mencoba mengamati apa sih yang mereka mau. Dicekoki ini, itu...dikasih undangan ini itu...disuruh ikut ini itu... Hingga pada akhirnya saya berada pada titik jenuh didoktrin seperti itu. "Saya bukan robot yang bisa mereka gerakkan semau mereka", pikir saya.
Ketidaknyamanan ini saya ceritakan sama sahabat-sahabat saya. Ternyata sahabat saya juga merasakan hal yang serupa. Terdiamlah kami, mencoba berpikir, ada apa ini ?
Semenjak itu, alhamdulillah ada satu titik terang. Kami menemukan banyak bukti. Bukti yang membuat saya keluar dari tempat itu, tempat yang menjadi saksi pencarian jati diri saya. Tak hanya tempat itu, saya juga meninggalkan liqo' yang sempat saya ikuti beberapa waktu dan lebih memilih mengikuti kajian diberbagai tempat.
Ternyata saya tidak cocok berada ditempat itu. Tempat dimana setiap orang baru yang masuk didalamnya bertanya-tanya, kenapa dan kenapa, dan selalu dijawab dengan pertanyaan yang menimbulkan pertanyaan tanpa ujung. Saya tidak suka dengan sesuatu yang penuh rahasia, apalagi masalah agama. Saya yakin agama yang saya yakini adalah agama yang benar dan tidak perlu ada yang harus disembunyikan. Ya, ternyata pemikiran dakwah saya dan mereka berbeda.
Lama sekali masalah ini bersarang dipikiran kami, hingga membuat kami linglung tak tau harus percaya yang mana (saat itu). Air mata, kekecewaan sepertinya sudah menjadi teman dihari-hari kami. Saat itu yang saya pikirkan hanyalah "tega..." ya, tega sekali mereka membuat kami bingung.
Saya akui jilbab saya besar, jilbab yang menjadi ciri khas mereka. Itu saya pilih karena saya nyaman dengan penampilan yang seprti itu. Namun hanya sebatas jilbab, tidak lebih dari itu (insyaallah). Lagi-lagi saya ingin bilang, saya punya pendirian yang saya yakini, bukan ikut-ikut. Walaupun sekarang ada beberapa teman dan sahabat saya yang masih mengikuti 'kelompok' mereka (mungkin itu pilihan mereka), tapi saya mencoba untuk menghargai itu. Selama mereka tidak mengusik kenyamanan akan keyakinan saya, saya pun akan menghargai keputusan mereka.
Allangkah indahnya jika hidup itu saling menghargai, menghargai setiap perbedaan yang ada. Tak perlu mengolok-olok mereka salah dan hanya kami yang benar. Allah tak suka itu. Biarlah kita berjalan sesuai keyakinan kita masing-masing, Allah Maha Tau kok.
Buat teman saya itu, cobalah untuk belajar menghormati orang lain, saya pun juga sedang berusaha. Mari jaga lisan kita, jangan sampai karena hanya lisan yang tak terjaga membuat kita tak dapat merengkuh ridho Nya.
Maaf jika tulisan ini ada yang tidak berkenan. Hanya sekedar ingin mengungkapkan sebuah opini. Tidak bermaksud mencari perdebatan, karena saya sama sekali tidak suka berdebat. Jazakillah, semoga bisa menjadi bahan renungan bersama :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar