Pages

Rabu, 30 Mei 2012

PostHeaderIcon Filosofi Paku dan Papan

"Ketika paku pernah tertancap pada sebuah papan yang kemudian pernah dicabut paksa, tentu akan menghasilkan lubang yang tak beraturan. Dan ketika paku itu dicoba tertancap kembali pada lubang yang sama, tentu akan memerlukan pukulan yang sangat keras agar bisa tertancap atau bahkan tak akan pernah bisa tertancap karena lubang sudah terlalu dalam.

Sementara sebuah syarat mengatakan : satu paku hanya bisa menempati satu titik pada seluruh area sebuah papan." (filosofi paku dan papan)


Paku adalah cinta dan papan adalah hati. Semakin banyak lubang yang tertancap, semakin banyak luka yang akan membekas. Hati begitu mudah sekali kotor dengan yang namanya cinta. Cinta yang banyak itu bukanlah cinta, namun nafsu. Nafsu yang besar akan menhitamkan hati. Bukankah hati itu seharusnya hanya untuk satu nama ? Satu nama yang akan abadi...

Menjaga hati itu memang susah. Ketika kita sudah menetapkan satu nama, istiqomah lah. Janganlah mudah berpindah papan, meskipun "papan" tetangga terlihat lebih baik.

Bantulah mereka untuk menjaga papan, jangan berani sembarang menancapkan paku, tidakkah kasihan pada sebuah papan ? Lubang tak akan pernah hilang, maka janganlah sembarangan membuat lubang, wahai paku... 

cukup satu, hanya satu, istiqomahlah ....





2 komentar:

Anonim mengatakan...

sangat setuju.......TT
mendapat seseorang yang banyak lubangnya benar2 menyiksa perasaan...
(curcol)

Azahra Bustan mengatakan...

gak cuma menyiksa perasaan, tapi juga bisa membuat bimbang T_T

Posting Komentar

Foto Saya
Azahra Bustan
Lihat profil lengkapku

Pengunjung

Blog Archive

Visitor

Flag Counter

Follow Me

Diberdayakan oleh Blogger.