Rabu, 30 Mei 2012
Filosofi Paku dan Papan
22.31.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
"Ketika paku pernah tertancap pada sebuah papan yang kemudian pernah
dicabut paksa, tentu akan menghasilkan lubang yang tak beraturan. Dan
ketika paku itu dicoba tertancap kembali pada lubang yang sama, tentu
akan memerlukan pukulan yang sangat keras agar bisa tertancap atau
bahkan tak akan pernah bisa tertancap karena lubang sudah terlalu dalam.
Sementara sebuah syarat mengatakan : satu paku hanya bisa menempati satu titik pada seluruh area sebuah papan." (filosofi paku dan papan)
Sementara sebuah syarat mengatakan : satu paku hanya bisa menempati satu titik pada seluruh area sebuah papan." (filosofi paku dan papan)
Paku adalah cinta dan papan adalah hati. Semakin banyak lubang yang tertancap, semakin banyak luka yang akan membekas. Hati begitu mudah sekali kotor dengan yang namanya cinta. Cinta yang banyak itu bukanlah cinta, namun nafsu. Nafsu yang besar akan menhitamkan hati. Bukankah hati itu seharusnya hanya untuk satu nama ? Satu nama yang akan abadi...
Menjaga hati itu memang susah. Ketika kita sudah menetapkan satu nama, istiqomah lah. Janganlah mudah berpindah papan, meskipun "papan" tetangga terlihat lebih baik.
Bantulah mereka untuk menjaga papan, jangan berani sembarang menancapkan paku, tidakkah kasihan pada sebuah papan ? Lubang tak akan pernah hilang, maka janganlah sembarangan membuat lubang, wahai paku...
cukup satu, hanya satu, istiqomahlah ....
Label:
motivasi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
sangat setuju.......TT
mendapat seseorang yang banyak lubangnya benar2 menyiksa perasaan...
(curcol)
gak cuma menyiksa perasaan, tapi juga bisa membuat bimbang T_T
Posting Komentar