Kamis, 12 Desember 2013
Ketika Jodoh Di Tangan "Murrobi"
00.45.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
Tahun pertama kuliah di semester 2, pertama kalinya mengenal organisasi Islam sejenis "ROHIS" yang ternyata banyak memberikan 'kesan' tersendiri selama kuliah. Memang dari dulu saya sudah tertarik dengan organisasi keislaman, dan hal itulah yang membuat saya terjun aktif (kala itu) di lingkungan keislaman.
Kesedihan akan Islam yang lambat berkembang membuat diri ini semakin semangat untuk membangun organisasi islam di kampus lebih maju. Ya, waktu itu saya sendiri merasakan kesenjangan yang luar biasa antara organisasi islam dengan organisasi lain di kampus. Betapa mirisnya melihat organisasi ini terlihat seperti 'rumah berhantu'.
Perlahan-lahan menyamakan visi dengan teman-teman, saling memberi semangat behkan sampai menangis bersama saking sulitnya menyamakan 'kedudukan' di organisasi ini. Organisasi yang waktu itu saya merasa menjadi organisasi yang dikucilkan tidak hanya oleh mahasiswanya tetapi juga dosen-dosen selaku pembina organisasi. Dipandang sebelah mata dan tidak mendapatkan dukungan disetiap kegiatan. namun syukur, ini tidak berlangsung lama, cukup setahun merasakan susahnya berjuang di jalan dakwah hingga saya sendiri memutuskan untuk resign dengan segala macam pertimbangan.
Tempat itu hanyalah media saja, bukan dalang dari semua....
Ini inti yang ingin aku bagi setelah aku membaca tulisan ini http://chirpstory.com/li/175627 dan tulisan ini cukup menambah bukti kuat memang kecurigaan waktu itu benar adanya. Saya setuju dengan apa yang ditulis disitu, awalnya selalu sama.
Diperkenalkan dengan "murrobbi" yang katanya tidak boleh ada yang tahu siapa "murrobi" kita, syuro yang pernah suratnya 'eksklusif', bahkan sampai liqo' yang memakan banyak waktu dengan segala peraturannya (persis dengan yang ditulis di link diatas).
Kegelisahan, ketidaknyaman, dan keanehanlah yang membuatku hengkang dari tempat itu. Dari awal sebenarnya sudah merasa aneh terlebih lagi ketika surat undangan 'eksklusif' itu diberikan. Hingga akhirnya semua terbongkar, ini ada hubungannya dengan politik dan saya tidak suka. Saya akui strategi mereka memang cerdik, terencana, dan rapi meski akhirnya harus terbongkar.
"Merekalah" yang merubah segalanya...
Teman, sahabat, pemikiran, bahkan sampai tingkah laku berubah derastis. Ya, semuanya berubah ada sisi positif dan negatif. Yang saya masih suka hanya prinsip beragamanya yang kokoh, selain itu (maaf) saya kurang setuju dengan pemikirannya. Mulai dari cara perekrutannya yang menurut saya diam-diam dan terkesan brainwashing bahkan sampai urusan menikah pun mereka punya aturannya sendiri. Inilah yang membuat saya semakin mantap untuk memilih jalan hidup saya sendiri.
Jodoh...
Apa salah jika memilih orang 'awam' sebagai pasangan ?
Jika orang 'tinggi agamanya' diwajibkan memilih yang setara, bagaimana nasib peradaban didunia ini ?
Bukankah setiap orang itu harus saling melengkapi, bukankah jodoh juga begitu ?
Ini sempat menjadi hal menarik kala itu, bahkan sampai memanas. Dan diperaturan mereka, murrobi haruslah dituruti termasuk tentang jodoh. Jujur saya tidak setuju dengan ini. Menurut saya murrobi boleh menyarankan tetapi tidak untuk memaksakan...
**sekedar sharing pengalaman masa lalu
Label:
Cerita ku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar