Pages

Rabu, 13 November 2013

PostHeaderIcon Hikmah Dibalik Pelatihan Kewirausahaan

Aku rasa setiap orang punya jalannya sendiri untuk mendapatkan hikmah. Dan aku juga merasa setiap orang punya keputusannya sendiri akan sebuah pilihan. Ini dia, kisah selama tiga hari mengikuti pelatihan kewirausahaan yang sebenarnya aku sendiri tidak menyangka kenapa aku hadir disana...

Berawal dari suatu sore, undangan itu hadir atas namaku. Tidak merasa pernah mendaftar apalagi berencana untuk mengikuti kewirausahaan, aku pun terus bertanya. Dan ternyata 'dalang' dibalik semua ini adalah bapak. aku ketahui ini dari teman bapakku yang menceritakan kronologi pendaftaran ini. 

"Gini dik, ini bapak nanti kalau pensiun pengen jahit." kata seorang teman bapak yang hadir disore itu.

"Ya, kalau ikut pelatihan ini siapa tahu dapat mesin jahit gratis." beliau menambahkan.

Tiba-tiba hatiku bergetar, inikah rencana bapak selanjutnya ? Apakah benar-benar beliau berencana sebagai penjahit kelak ketika pensiun nanti ? Sungguh jujur aku sebagai anak seolah tidak mengenal betul apa keinginan bapakku. 

Karena itu muncul motivasi untuk hadir dan berusaha mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi menyenangkan orang tua. 

Inilah hidup, tiada hari tanpa sebuah cerita dan hikmah...


Datang tepat pembukaan itu dimulai, ternyata usaha ngebut dari kampus tidak sia-sia masih bisa datang tepat waktu. Hari itu aku berkenalan dengan Ibu muda yang awalnya aku kira umurnya tidak jauh beda denganku ternyata kami terpaut 10 tahun :3. Namanya Ibu Yuli asli Surabaya yang ternyata anak tunggal juga. Wah cocok dah kami mengobrol banyak hal mulai dari gak enaknya menjadi anak tunggal pasca menikah karena harus meninggalkan orangtua sendiri, suka duka menjadi ibu rumah tangga, bahkan perjalanan cinta Ibu Yuli yang memberikan banyak pelajaran bagiku. "Mungkin ini salah satu cara Allah untuk menunjukkan bukti kepadaku."

Bercerita tentang anaknya yang sedikit manja, anak temannya yang berani dengan orangtuanya, uang sekolah yang semakin mahal, keputusannya menjadi ibu rumah tangga, dan kisah pernikahannya yang jauh dari mimpi-mimpi masa mudanya.



"Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya." Perilaku anak akan selalu melihat perilaku orangtuanya. Banyak sekali kisah diluar sana dimana orangtua sibuk mencari uang dan rela meninggalkan anak hingga tidak merasa bahwa anak juga membutuhkan perhatian dan kebersamaan bersama orangtuanya, merasa bahwa kebahagiaan terbesar adalah uang. Padahal tidak sama sekali. Aku juga merasakan itu, tapi syukur alhamdulillah sesibuk apapun orangtuaku masih ada banyak perhatian buatku.

Perjalanan cinta Ibu Yuli juga tidak kalah menarik untuk diceritakan. Sebelum menikah beliau sudah pacaran selama tujuh tahun, sejak SMP. Wow, lama banget rek :3. Namun cerita Tuhan berbeda. Tujuh tahun bukanlah waktu yang bisa menjanjikan kepastian akan kehidupan berumah tangga. "Mungkin kesangkut dipulau mana mbak." Ibu Yuli menceritakan dengan raut wajah kecewanya. Ya, sepertinya memang sakit kalau hubungan yang selama itu berakhir dengan tidak kejelasan seperti itu. Namun akhirnya beliau menikah dengan teman sekantornya yang belum lama kenal, dan dalam hitungan bulan saja mereka resmi menjadi pasutri :).

Banyak sih yang seperti itu. Ibu angkatku di Lombok, mbak sepupuku, bahkan yang pernah ngontrak ditempatku. Dari sinilah aku belajar, bahwa lamanya hubungan tidak menjamin apakah kita akan bersama selamanya dengan dia atau tidak. Allah memang Maha Pemberi Petunjuk :'D



"Dari pada sibuk memukul paku yang belum pasti lebih baik menghias papan agar terlihat semakin cantik. Luka yang mahal obatnya adalah ketika perasaan itu sama-sama ada tetapi tidak ada jalan untuk bersatu."


Bismillah, semoga pilihan ini benar adanya :')

*maaf ya pak, tidak fokus sama pelatihannya :(

Terimakasih telah membaca,
semangat belajar,


Ruang tengah
bersama rintikan hujan dan dinginnya malam.



0 komentar:

Posting Komentar

Foto Saya
Azahra Bustan
Lihat profil lengkapku

Pengunjung

Blog Archive

Visitor

Flag Counter

Follow Me

Diberdayakan oleh Blogger.