Sabtu, 13 Oktober 2012
Ikhwan-Akwat : Menikah Saja Deh, Daripada Timbul Fitnah
18.39.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
Proses akan terus berlanjut dengan seiringnya waktu. Kembali mengukir sebuah kisah yang penuh dengan permainan nafsu. Langkahnya, sikapnya, membuat hati merasa teriris dan kecewa. Ikhwan dan akhwat itu, ceritanya masih berlanjut.
Lama tidak menulis tentang keberlanjutan ikhwan dan akhwat. Ternyata sudah banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah mereka. Awal dari semua, seharusnya tidak pernah ada...
Sekali lagi aku mengakui "cinta itu fitrah", akan hadir disetiap hati manusia. Tidak boleh dilawan tapi sebaiknya ditahan jika waktu belum mengijinkan. Yang ku tahu cinta itu seperti sihir, mampu merubah apapun tanpa diduga. Membutakan pikiran bahkan hati nurani setiap insan.
Geleng-geleng kepala, sebegitukah kekuatan cinta ?
Hey, tidak bisakah kita 'sadar' ketika sebuah rasa bernama cinta itu datang. Tetap menjadi diri sendiri dan menjaga diri. Tidak mengubahnya menjadi negatif. Jika begitu, sepertinya memang benar "cinta itu membutakan".
Semakin kesini yang ada hanya mengelus dada. Banyak orang yang mulai mengeluh tentang sikap mereka. Menganggapnya ini sudah melebihi batas hubungan ikhwan dan akhwat. Dan memang benar, ini memang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang ikhwan dan ahwat.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan,
dakwahkah ?
atau modus dibalik kata 'dakwah' ?
Huumt, bekerja bersama dan selalu bersama hingga akhirnya mereka seakan tidak mau dipisahkan. Seorang akhwat yang selalu menyebut "hanya ikhwan 'itu' seharusnya yang menjadi ini...itu...hanya ikhwan 'itu' yang pantas diposisi ini...itu.." huh, aku sendiri capek mendengar perkataan itu setiap waktu. Apa memang benar tidak ada yang lebih baik dari 'ikhwan' itu ??? Dan apakah si ikhwan akan berpikiran sama dengan yang akhwat pikirkan. Rasanya kok rugi jika pemikiran seperti itu hanya dirasakan sebelah pihak.
Hohoho.... setelah beberapa pekan bekerja dibawah kepemimpinan ikhwan, ternyata yang pernah dikatakan akhwat itu salah!!
Menurutku akhwat itu terlalu over dalam menilai si ikhwan. Merasa hanya ikhwan itu yang terbaik padahal jika akhwat melihat jauh keluar, masih banyak orang yang jauuuuuh lebih baik dibanding ikhwan itu.
"Cinta...cinta kau sungguh gila, menutup mata, hati, dan telinga. Dan dunia hanya milik kalian berdua."
Analisis pun berjalan....
Burung yang terbang dalam sangkar, begitulah aku melihat akhwat itu. Ya, dia hanya terbang didalam sangkar. Berputar-putar tanpa tahu dunia luar, dunia luar yang lebih hebat.
Terserah sih, itu kehidupan mereka. Tapi yang mengusik kenyamanan adalah 'omongan-omongan' orang diluar sana. Citra negatif, fitnah yang terus bergulir. Kasihan...
Tidak sadarkah mereka membawa nama baik agama yang mereka yakini ?
Tidak malukah dengan pakaian yang mereka kenakan ?
Hanya itu yang aku takutkan, pandangan orang terhadap agamaku. "Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga." Kebaikan yang segunung tidak akan pernah terlihat, namun kesalahan yang sebutir debu begitu mudah tersebar.
Jika sudah sama-sama suka dan cocok kenapa tidak menikah saja ? Toh itu menjauhkan dari fitnah. Jika belum siap, kenapa batasan itu seakan dihiraukan ? Batasan itu tidak hanya sebatas hijab yang terbentang, namun juga tingkah laku dan juga perasaan. Jika belum siap, kenapa perkataan kami seakan dihiraukan, dan hanya mendengarkan perkataan ikhwan saja. Kami dianggap apa ?
Datang jika butuh, pergi jika telah bahagia. Apa bedanya dengan yang bukan akhwat ? Berbagi kesedihan dan kesakitan. Hanya ada tetesan air mata yang tertinggal tanpa senyum kebahagiaan.
Cinta...cinta...cinta...
Aku sendiri lebih menghargai orang yang berkata :
"Ya, aku mencintainya. Tapi bantu aku untuk menjaga, menjaga diriku dan dirinya hingga menjadikannya cinta yang halal, suatu hari nanti."
Dibanding aku mendengar :
"Aku tidak mencintainya kok, kami hanya berteman." tetapi kenyataannya apa ? sikap mereka seolah-olah sedang menjalin hubungan. Bukankah itu munafik !!
Just share, semoga bisa mengambil pelajaran dari kisah nyata ini...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar