Pages

Rabu, 03 Oktober 2012

PostHeaderIcon Euforia KKN


Semester 5 baru saja dimulai, beberapa minggu yang lalu. Semangat baru, harapan baru, kekuatan baru, semuanya baru saja terkumpul. Tahun ketiga kuliah, seharusnya sudah tidak ada keraguan lagi untuk terus melangkah. "Terlanjur basah" begitu istilahnya, sudah tidak ada waktu lagi untuk menyesal, menyesal berada ditempat ini dan belajar disini. 

Semester 5 baru saja dimulai, tapi euforia seperti itu ternyata lebih cepat datang, sama sekali tidak saya perkirakan. Begitu cepat dan terlalu cepat. KKN ~ Kuliah Kerja Nyata. 

Saya tidak habis pikir, kenapa angkatan saya selalu saja seperti ini, "heboh" sebelum waktunya. Tidakkah berpikir santai dan fleksibel ?? Sebenarnya tidak hanya masalah KKN, tapi masalah kuliah pun sering dibuat heboh. Praktikum, proyek, asisten, bahkan sampai skripsi. Bagus sih sudah bisa berpikir jauh kedepan, tapi kok rasanya tidak bisa menikmati hidup sebagai mahasiswa ya ? Menikmati setiap pembelajaran hidup. Ya, ini cuma pemikiran saya.


Back to KKN....
Mau tidak mau karena pada heboh dengan euforia KKN, saya pun ikut larut didalamnya. Mau tidak mau !! Ya masak yang lainnya sibuk berlari saya masih istiqomah berjalan ?? Mencoba mengimbangi.

Pembicaraan KKN selalu saja terdengar sejak kuliah dimulai. Facebook, twitter, semua media tidak luput dari perbincangan KKN. Bahkan kakak angkatan heran, baru saja pulang dari KKN ini kok udah heboh KKN lagi, padahal masih tahun depan. Ya...itulah kami kak :)

Ketika teman-teman bertanya, "Mau KKN dimana Wul ?"

humt... saya selalu menjawab "Gak tau nih, pengennya ke Sulawesi atau Jawa Barat."

Ya, sebenarnya saya ingin sekali ke Sulawesi. Kenapa ? karena Sulawesi salah satu pulau impian yang ingin saya kunjungi. Banyak tempat-tempat indah disana. 

Kalau Jawa Barat ?
Entah kenapa dari kecil saya sangat tertarik dengan kebudayaan provinsi ini, dari bahasanya, orang-orangnya, semuanya unik.  Bahkan ada beberapa mimpi yang berkaitan dengan daerah ini. (semoga terkabul, aamiin).

Pernah suatu hari saya meminta ijin Bapak untuk KKN di Sulawesi. Saya ceritakan alasan dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat KKN semester depan. Ketika saya bercerita, saya melihat raut kecewa dan kesedihan diwajah Bapak. Tampak sekali perubahannya, walaupun Bapak masih berusaha tersenyum dan menanggapi dengan logika-logikanya. 

Waktu itu saya menjelaskan, kalau saya ikut KKN non proyek fakultas kemungkinan saya tidak akan berlebaran bersama keluarga, namun jika ikut KKN dengan fakultas h-4 sudah bisa pulang ke kampung halaman. Ketika mendengar itu, Bapak terdiam sebentar...

"Mending ikut yang fakultas aja dik." bapak menanggapi setelah cukup lama terdiam.

"Nanti aja ke Sulawesinya, besok kalau sudah ada yang nemenin. Biaya juga, pasti butuh biaya yang banyak juga ke sana." kata bapak.

Kini giliran saya yang terdiam ketika mendengar perkataan Bapak. Saya tahu sebenarnya bukan masalah itu yang Bapak permasalahkan, karena saya tahu Bapak tidak pernah mengeluh tentang biaya. Saya disini merasa, Bapak belum siap saya tinggal terlalu lama. Apalagi ditempat yang jauh dan harus rela melepaskan moment spesial lebaran. Saat itu saya semakin merasa, Bapak teramat menyayangi saya. 

Merenunglah saya, jalan mana yang harus saya pilih. Mengikuti ambisi atau hati seorang Bapak. 

Terketuklah hati saya, tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran yang membuat saya 'rela' melepaskan impian saya . Saya beprikir, 
Apakah saya rela untuk tidak berlebaran bersama keluarga ? 
Apakah saya tega membiarkan mereka berlebaran berdua saja menikmati suasana Ramadhan tanpa saya ? 

dan yang paling membuat saya yakin untuk melepaskan pilihan itu adalah pertanyaan 

Apakah saya siap jika tahun besok adalah lebaran saya yang terakhir dengan mereka ?

Namanya takdir siapa yang tahu. Terlebih lagi mulai tahun 2012 ini sudah tidak lagi merasakan serunya mudik dan berlebaran ditempat simbah karena simbah saya sudah mendahului saya tepat sehari sebelum usia saya bertambah.

Pertanyaan yang terakhir itu membuat saya sedih. Saya tidak mau menyesal kelak. Ya, saya tidak mau menyesal. Setidaknya jika saya belum membahagiakan mereka dengan kesuksesan saya, paling tidak saya masih bisa membahagiakan melalui hati mereka.

Akhirnya keputusan sudah saya ambil. 
Saya yakin ridho orangtua adalah ridho Allah. Saya akan KKN dimana hati orangtua saya ridho. Dimanapun itu, tidak masalah, selama kedua orangtua saya tidak kecewa dengan apa yang menjadi pilihan saya....

Karena satu hal yang menjadi prinsip hidup saya, cukup sudah saya merepotkan mereka didunia, jangan sampai saya merepotkan mereka diakhirat karena tingkah laku saya (dalam hal apa pun itu). 

KKN oh KKN... dimanapun tempatnya yang terpenting esensinya, mengabdi... Mengabdi dengan bekal restu orangtua, insyaallah KKN jadi lebih berkah ^^

0 komentar:

Posting Komentar

Foto Saya
Azahra Bustan
Lihat profil lengkapku

Pengunjung

Blog Archive

Visitor

Flag Counter

Follow Me

Diberdayakan oleh Blogger.