Pages

Kamis, 06 September 2012

PostHeaderIcon You Are My Inpiration

 

Hari ini, kembali ku melihat kasih sayang seorang ayah kepada anak. Ya, bapak ku... 

Setengah hari full menemani aku periksa, sama seperti 14 tahun yang lalu. Merelakan waktu bekerjanya hanya untuk menemani anak gadis satu-satunya, walapun sebenarnya beliau tau aku mampu sendiri. 

Menunggu antrian sambil terkantuk-kantuk, menyembunyikan rasa kawatir dibalik ketegarannya. Bapak ku... aku tau itu...

Melihat lalu lalang pasien, anak kecil, remaja, orang tua, bahkan kakek nenek. Semua pemandangan itu aku lihat dihari itu. Ku lirik bapakku yang masih terdiam memegangi tas kantornya. 14 tahun yang lalu, banyak yang berubah rupanya. 

Kulitnya tak sekencang dulu ketika aku masih digendongnya. Wajahnya tak sesegar dulu, mulai banyak keriput menghiasi wajah yang pandai menyembunyikan segala macam kekawatiran itu. Ya, bapakku selalu memendamnya sendiri. Hanya sesekali beliau bercerita padaku. Tak pernah beliau menceritakan hal-hal yang membuatku kawatir, beliau selalu bercerita tentang motivasi, inspirasi, cerita yang mampu membuatku semangat untuk hidup, bukan pasrah dengan keadaan.

Aku tau bapak ku kawatir dengan kesehatanku. Dan aku tau bapak ku sudah menyadari dari dulu. Sesuatu yang tidak beres dengan tubuh ku. Sudah berulang kali bapak memintaku untuk periksa, tapi dasarnya aku yang ngeyel tak perduli dengan kesehatanku sendiri. Bapak ku tak lagi keras seperti dulu, dimana aku selalu dipaksa untuk 'patuh' dengan perintah dokter. Kini sikapnya lebih halus, sangat halus malah. Membuatku semakin bersalah.

Teringat, dulu setelah selesai pengobatan dari RS Sardjito, bapak selalu mengajakku mampir ke Galeria. Bukan untuk membelikanku mainan, tapi untuk mengajariku 'makna kehidupan'. Bapak tau aku tertarik dengan mainan dan segala macam benda yang ada disana. Tapi bapak tak pernah sekalipun membelikannya untuk ku. Bukan karena bapak pelit, tapi memang saat itu kondisi keuangan keluarga kami sedang sulit. 

Aku tau, untuk biaya pengobatanku saja bapak dan ibuku harus pinjam kesana kemari, terlebih lagi saat itu sedang krisis moneter. Ya, bisa dibayangkan bagaimana kondisi kami saat itu. Tapi dari situlah bapak mengajariku sikap untuk 'nerimo', bersyukur apapun yang telah Allah berikan.

Bapak ku selalu bilang, bahwa beliau tidak ada uang untuk sekedar membelikanku mainan, sehingga beliau hanya bisa mengajakku untuk sekedar 'melihat' betapa cantiknya mainan itu. Mungkin banyak orang tidak sependapat dengan cara bapak ku yang menceritakan kondisi keuangannya kepada anaknya, namun menurutku itu salah satu cara mendidik agar seorang anak tak banyak menuntut ini itu. Bapak ku sukses mendidik kepribadianku.

Aku kembali terharu, ketika bapak rela mencari satu obat yang belum didapat. Padahal aku tau kondisinya sedang letih. 

"pokoknya obat ini harus dapat hari ini, semahal apapun harus dapat " seolah itu  kata hatinya.

Pergi meninggalkan rumah, khusus mencarikan obat untukku.

Ketika kembali, wajahnya kembali sumringah ketika satu jenis obat itu beliau dapat, ada kelegaan terpancar pada dirinya. Tak henti-hentinya beliau mengingatkanku untuk rajin minum obat. 

"pokoknya harus habis low dik !!" begitu kata bapak. 

Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan, merelakan setiap hari tubuh ku bersahabat dengan obat, meminum butiran-butiran obat yang ukurannya tak lagi kecil. Kembali belajar bagaimana cara meminum obat.. Aaaaa... aku tak suka obat !!

Bapak ku, yang tak pernah mengeluh saat sakit...
Bapak ku, yang tak pernah bilang jika beliau sedang sedih ...
Bapak ku, yang selalu tegar saat masalah datang menghampiri ...
Bapak ku, yang selalu optimis...

Itulah yang diajarkan bapak ku kepadaku, tidak dengan ucapan melainkan tindakan. Banyak yang ingin aku tiru darinya. Kepercayaannya, kesabarannya, ketegasannya, dan yang paling penting adalah sikap nerimonya.

Jika aku tak sempat membahagiakan beliau disini, akan ku hadiahkan kado istimewa untuk engkau disana... aku ingin ada cahaya yang akan menerangimu disana. Hingga nanti engkau berucap "aku bangga menjadikanmu anak, anak ku satu-satunya." :')

0 komentar:

Posting Komentar

Foto Saya
Azahra Bustan
Lihat profil lengkapku

Pengunjung

Blog Archive

Visitor

Flag Counter

Follow Me

Diberdayakan oleh Blogger.