Kamis, 06 September 2012
You Are My Inpiration
23.31.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
Setengah
hari full menemani aku periksa, sama seperti 14 tahun yang lalu.
Merelakan waktu bekerjanya hanya untuk menemani anak gadis satu-satunya,
walapun sebenarnya beliau tau aku mampu sendiri.
Menunggu antrian sambil terkantuk-kantuk, menyembunyikan rasa kawatir dibalik ketegarannya. Bapak ku... aku tau itu...
Melihat
lalu lalang pasien, anak kecil, remaja, orang tua, bahkan kakek nenek.
Semua pemandangan itu aku lihat dihari itu. Ku lirik bapakku yang masih
terdiam memegangi tas kantornya. 14 tahun yang lalu, banyak yang berubah
rupanya.
Kulitnya
tak sekencang dulu ketika aku masih digendongnya. Wajahnya tak sesegar
dulu, mulai banyak keriput menghiasi wajah yang pandai menyembunyikan
segala macam kekawatiran itu. Ya, bapakku selalu memendamnya sendiri.
Hanya sesekali beliau bercerita padaku. Tak pernah beliau menceritakan
hal-hal yang membuatku kawatir, beliau selalu bercerita tentang motivasi, inspirasi, cerita yang mampu membuatku semangat untuk hidup, bukan pasrah dengan keadaan.
Aku
tau bapak ku kawatir dengan kesehatanku. Dan aku tau bapak ku sudah
menyadari dari dulu. Sesuatu yang tidak beres dengan tubuh ku. Sudah
berulang kali bapak memintaku untuk periksa, tapi dasarnya aku yang ngeyel
tak perduli dengan kesehatanku sendiri. Bapak ku tak lagi keras seperti
dulu, dimana aku selalu dipaksa untuk 'patuh' dengan perintah dokter.
Kini sikapnya lebih halus, sangat halus malah. Membuatku semakin
bersalah.
Teringat, dulu setelah selesai pengobatan dari RS Sardjito, bapak selalu mengajakku mampir ke Galeria. Bukan untuk membelikanku mainan, tapi untuk mengajariku 'makna kehidupan'.
Bapak tau aku tertarik dengan mainan dan segala macam benda yang ada
disana. Tapi bapak tak pernah sekalipun membelikannya untuk ku. Bukan
karena bapak pelit, tapi memang saat itu kondisi keuangan keluarga kami
sedang sulit.
Aku
tau, untuk biaya pengobatanku saja bapak dan ibuku harus pinjam kesana
kemari, terlebih lagi saat itu sedang krisis moneter. Ya, bisa
dibayangkan bagaimana kondisi kami saat itu. Tapi dari situlah bapak
mengajariku sikap untuk 'nerimo', bersyukur apapun yang telah Allah berikan.
Bapak
ku selalu bilang, bahwa beliau tidak ada uang untuk sekedar
membelikanku mainan, sehingga beliau hanya bisa mengajakku untuk sekedar
'melihat' betapa cantiknya mainan itu. Mungkin banyak orang tidak
sependapat dengan cara bapak ku yang menceritakan kondisi keuangannya
kepada anaknya, namun menurutku itu salah satu cara mendidik agar
seorang anak tak banyak menuntut ini itu. Bapak ku sukses mendidik
kepribadianku.
Aku kembali terharu, ketika bapak rela mencari satu obat yang belum didapat. Padahal aku tau kondisinya sedang letih.
"pokoknya obat ini harus dapat hari ini, semahal apapun harus dapat " seolah itu kata hatinya.
Pergi meninggalkan rumah, khusus mencarikan obat untukku.
Ketika kembali, wajahnya kembali sumringah
ketika satu jenis obat itu beliau dapat, ada kelegaan terpancar pada
dirinya. Tak henti-hentinya beliau mengingatkanku untuk rajin minum
obat.
"pokoknya harus habis low dik !!" begitu kata bapak.
Aku
hanya bisa mengangguk mengiyakan, merelakan setiap hari tubuh ku
bersahabat dengan obat, meminum butiran-butiran obat yang ukurannya tak
lagi kecil. Kembali belajar bagaimana cara meminum obat.. Aaaaa... aku
tak suka obat !!
Bapak ku, yang tak pernah mengeluh saat sakit...
Bapak ku, yang tak pernah bilang jika beliau sedang sedih ...
Bapak ku, yang selalu tegar saat masalah datang menghampiri ...
Bapak ku, yang selalu optimis...
Itulah yang diajarkan bapak ku kepadaku, tidak dengan ucapan melainkan tindakan. Banyak yang ingin aku tiru darinya. Kepercayaannya, kesabarannya, ketegasannya, dan yang paling penting adalah sikap nerimonya.
Jika aku tak sempat membahagiakan beliau disini, akan ku hadiahkan kado istimewa untuk engkau disana... aku ingin ada cahaya yang akan menerangimu disana. Hingga nanti engkau berucap "aku bangga menjadikanmu anak, anak ku satu-satunya." :')
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar