Sabtu, 29 September 2012
Masih Saja Kecewa
09.45.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
Tempat ini, sejak pertama memang sudah merasa akan melukis luka. Memproses seseorang menjadi sesuatu yang berbeda. Positif dan negatif.
Belajar kembali.
Sebuah peristiwa seminggu belakangan...aaah bukan mungkin sudah hitungan minggu atau bulanan. Mengamati dan mengambil intisari, inikah sebenarnya hidup ?
Tidak pernah terpikir, kenapa harus terjadi seperti ini. Mental, guncangan mental dari sebuah masalah. Membuatnya berubah, sangat derastis. Ego, emosi, semua terlihat begitu nyata. Bertahan dan hanya bertahan, mungkin sesekali menahan diri karena menjadi "korban". Berusaha mengerti. Namun apa daya setiap manusia punya batas yang berbeda.
Yang sempat saya pikirkan, apakah setiap manusia tidak bisa menempatkan diri pada situasi yang berbeda ?
Tidak menyamaratakan tempat !
Semua orang memiliki "beban" yang harus ditanggung, jadi kenapa harus manambah "beban" yang tidak seharusnya ditanggung ?
Melihat mereka, terkadang jengkel. Mentransfer aura negatif ke sekitar, membuat lingkungan tidak kondusif. Inilah yang membuat saya 'enggan' untuk bekerjasama dengan mereka, kalaupun akhirnya terlaksana itu karena sebuah 'rasa'. Sepertinya saya juga harus belajar, bahwa tidak semuanya harus diterima hanya karena menjaga perasaan. Karena yang pernah saya rasakan, tidak semua orang akan men 'folback' dengan rasa yang sama. Akhirnya apa ? kecewa... (satu pelajaran berharga untuk saya).
Terdiam sebentar, ada sesuatu yang mengganjal. Aah iya, sebuah fenomena yang sempat membuat geleng-geleng kepala. Why...why...why... ?
Kekecewaan. Kenapa masih saja berkelit jika bukti itu semakin nyata ? Saya tahu dia ikhwan dan akhwat. Saya merasa ada sebuah rasa diantara mereka. Lalu kenapa harus tersirat kata "bohong" dihari-hari mereka ? Sebuah rasa itu fitrah. Tidak terkecuali seorang ikhwan dan akhwat. Jika ingin menjaga, kenapa masih ada yang tertutup diantara mereka ? Sebuah rahasia yang hanya mereka yang tahu. Pasword, gerak-gerik, tingkah laku, ekspresi, bahkan nada bicarapun semua terlihat. Jelas ! dan banyak orang telah menyadarinya.
Humt, jika terus ditutup-tutupi bukankah itu hanya menimbulkan fitnah ? dimana penghormatan akan sebuah hijab yang disandang ??
Satu pelajaran yang dapat saya ambil.
Cinta itu fitrah. Namun setiap orang wajib untuk menjaganya.
Sendiri ?
Tentu tidak, setan itu licik teman. Maka dari itu, perlu seseorang yang ikut menjaganya. Seseorang yang mengawasi jika nanti kelewat batas.
Memang saya juga belum baik dan masih terus belajar. Saya juga jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan yang harus saya benahi. Tapi bolehkah saya berbagi ? Berbagi sebuah opini yang mungkin akan menyakitkan hati (bagi yang merasa). Maaf, saya sudah jenuh dengan kondisi yang seperti ini. Sebuah pemikiran yang mungkin tidak sependapat dengan mereka.
-Biarlah, setiap manusia berhak untuk berbicara.-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar