Minggu, 26 Agustus 2012
Fatimah Azzahra
16.52.00 | Writer
Azahra Bustan |
Edit Entri
Berulang kali menyebut wanita bernama Fatimah Azzahra, putri kanjeng Nabi yang sangat di cinta. Siapakah beliau ? Seberapa hebatkah beliau hingga membuat Rasulullah teramat mencintainnya ?
Alamdulillah, akhirnya ada kesempatan juga untuk berbagi sekelumit perjalanan bunda Fatimah Azzahra, sosok yang selama ini menjadi panutan. Ini dia kisahnya,
cekidooooot .... >>>
.............................................................................................................
Fatimah adalah putri yang paling dicintai Nabi Saw. sehingga beliau
bersabda : "Fatimah adalah darah dagingku, siapa yang menyusahkannya juga
menyusahkanku dan siapa yang mengganggunya juga menggangguku”.
Lahir pada hari Jum’at 20 Jumadil akhir tahun kelima sebelum Nabi Saw.
menjadi Rasul. Fatimah putri kesayangan Nabi Saw. yang mendapat gelar Assidiqah
(wanita terpercaya), Athahirah (wanita suci) al-Mubarakah (yang
diberikahi Allah), al-Muhadatsah (Yang diajak bicara Jibril as),
Al-Batuul yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada
bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab. Dia
populer dengan sebutan Fatimah Azzahra (bunga yang mekar semerbak),
sayyidatunnisa-i ahlil jannah (Penghulu para wanita di surga).
Dia membesar dalam suasana kesusahan. Bundanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu.
Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas menguruskan rumahtangga seperti memasak, mencuci, mengemas rumah dan menguruskan keperluan ayahandanya.
Di sebalik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat
beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja
menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang
Sayidatina Fatimah daripada bermunajata dan beribadah kepada Allah SWT.
Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula
dengan sembahyang, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain.
Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.
Di waktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dinikahkan dengan pemuda yang
sangat miskin hidupnya. (muda banget ya ^^). Bahkan oleh kemiskinan itu, untuk membayar mas
kahwin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah SAW.
Setelah menikah kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat
sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Digelar Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan
Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan hadapan dalam
bala tentera Islam.
Lalu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi
berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap redha dengan
suaminya.
Istri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami.
Namun bagi Sayidatina Fatimah r.a, saat-saat berjauhan dengan suami
adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah SWT untuk mencari
kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.
Sepanjang kepergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil
menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin,
Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri.
Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan
mencedoknya dari perigi yang 40 hasta dalamnya, di tengah bahang mentari
padang pasir yang terik.
Kadangkala dia berlapar sepanjang hari. Sering pula dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.
Pernah suatu hari, sedang dia tekun bekerja di sisi batu pengisar
gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah
yang amat keletihan ketika itu lalu meceritakan keperitan hidupnya itu
kepada Rasulullah SAW. Betapa dirinya teruk bekerja, mengisar tepung,
mengangkat air, memasak serta melayan anak-anak.
Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali,
kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah.
Rasulullah saw merasa belas terhadap penanggungan anak andanya itu.
Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan
bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat.
Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan
keredhaan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya.
Lalu dipujuknya Fatimah r.a sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah.
Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan,
segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan. Ketaatannya
kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah SWT mengangkat darjatnya.
Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka.
Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.
Pada saat itu, kemiskinan tidak menghalangi Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah.
Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan.
Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia
tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa
memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan.
Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini kerana Sayidina Ali
sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai 'Bapa kepada
janda dan anak yatim' di Madinah.
Namun, pernah suatu hari, Sayidina Fatimah telah menyebabkan Sayidina
Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyedari kesilapannya,
Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.
Apabila dilihatnya air muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari anak, dia mengelilingi Sayidina Ali.
Tujuh puluh kali dia 'tawaf' sambil merayu-rayu memohon dimaafkan.
Melihatkan aksi Sayidatina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas
memaafkan isterinya itu.
"Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak
memaafkanmu, nescaya aku tidak akan menyembahyangkan jenazahmu,"
Rasulullah SAW memberi amarah kepada puterinya itu apabila perkara itu
sampai ke pengetahuan baginda.
Begitu sekali kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah SWT sebagai
pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu
berhati-hati dan sangat berhalus di saat berdepan dengan suami. Apa yang
dilakukan Sayidina Fatimah itu bukanlah disengajakan. Apatah lagi,
bukan juga dia merungut-rungut, marah-marah, meninggi suara, bermasam muka, merajuk atau lain-lain keranah yang
menyusahkan Sayidina Ali k.w. Pun Rasulullah SAW berkata begitu
terhadapnya.
Semasa perang Uhud, Sayidatina Fatimah telah turut sama merawat luka
Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan
Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan 'Haji Wida' pada akhir
tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah SAW telah
jatuh sakit.
Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasulullah
membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah r.ha yang membuatkannya menangis,
kemudian Nabi SAW membisikkan sesuatu lagi yang membuatkannya
tersenyum.
Dia menangis kerana ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita
kematian baginda. Namun, sewaktu ayahandanya menyatakan bahawa dialah
orang pertama yang akan berkumpul dengan baginda di alam baqa',
gembiralah hatinya.
Sayidatina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi
SAW, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi', Madinah. (10 tahun usia pernikahannya :'( )
Begitu sekali wanita yang utama, agung dan namanya harum tercatat dalam Al-Quran, disusah-susahkan hidupnya oleh Allah SWT.
Sengaja dibuat begitu oleh Allah kerana Dia tahu bahwa dengan kesusahan
itu, hamba-Nya akan lebih dekat kepada-Nya. Begitulah juga dengan
kehidupan wanita-wanita agung yang lain.
Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang.
Sebaliknya,dengan kesusahan-kesusahan itulah mereka dididik oleh Allah
untuk sentiasa merasa sabar, redha, takut dengan dosa, tawadhuk
(merendah diri), tawakkal dan lain-lain.
Ujian-ujian itulah yang sangat mendidik mereka agar bertaqwa kepada
Allah SWT. Justru,wanita yang berjaya di dunia dan di akhirat adalah
wanita yang hatinya dekat dengan Allah, merasa terhibur dalam melakukan
ketaatan terhadap-Nya,dan amat bersungguh-sungguh menjauhi
larangan-Nya, biarpun diri mereka menderita.
Itulah Sayyidah Fatimah Azzahra, wanita termulia sepanjang jaman. Dia
adalah hasil pendidikan sempurna madrasah Rasulullah Saw. Tidak ada
orang yang sangat mirip jalan, cara bicara, akhlak dan kemuliaanya
dengan rasulullah Saw selain Fatimah. Fatimah adalah sosok sempurna,
cerdas, sederhana, berakhlak mulia dan dibebaskan dari segala dosa. Maka
tidak heran kalau Rasul saw bersabda: “Allah ridha dengan keridhaan
Fatimah dan marah karena kemarahannya,” . (Al-Hadits).
...................................................................................................................................................................
![]() |
| bukan Fatimah Azzahra, karena bunda pasti lebih cantik :P |
Beruntunglah Ali, pemuda miskin yang pemberani. Kalau teman-teman tau seperti apa kisah percintaan mereka, heeemt pasti ngiri. Cinta yang diam berakhir bahagia. Mencintai orang yang diam-diam juga mencintainya. Wanita yang tak pernah dimadu hingga akhir hayatnya, yang rela menyerahkan segala waktunya untuk keluarga dan agama. Wanita sempurna. Surga menantimu bunda ...
Wanita mana yang tidak ingin sepertinya, dan laki-laki mana yang tak ingin mendapatkannya. Bunda, ijinkan aku bertemu denganmu kelak, sekedar untuk mencium kedua tanganmu saja dan mengucap terimakasih bahwa engkau telah menginspirasiku dengan kisah hidupmu. Engkau wanita mulia bunda.... salam rindu :')
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


1 komentar:
subhanallah...
perlu banyak perempuan yang meniru keteladanan dari bunda fatimah azzahra... ^^
request tentang,
Siti Khadijah.. .
Posting Komentar