Pages

Rabu, 21 Maret 2012

PostHeaderIcon Ikhwan, Akhwat, Atau Yang Awam Itu Pilihan

Satu hal yang sering ada dipikiran ikhwan dan akhwat tentang cinta. Yang mereka inginkan hanyalah mendapatkan cinta yang mampu mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Umh..mungkin tak hanya ikhwan dan akhwat saja, orang awam pun terkadang berpikir seperti itu. Hanya saja ketika ikhwan dan akhwat berpikir seperti itu tentunya mereka berharap mendapatkan sesorang yang lebih dari dirinya, seperti luas pengetahuan agamanya, aktivis dakwah, hafal Al-Qur'an, bahkan mungkin hafal ratusan hadist. Tak ayal untuk mendapatkan seseorang itu mereka hanya berada dilingkungan yang notabenenya adalah tempat perkumpulan orang-orang seperti itu. 


Memang, banyak orang berharap mendapatkan seseorang yang mampu membimbingnya menjadi yang lebih baik. Tapi pernahkah berpikir, jika orang yang akan mengubah menjadi lebih baik itu adalah diri kita? Saya jadi teringat status teman saya di facebook. Kurang lebih begini statusnya "Ikhwan cenderung memilih akhwat atau sebaliknya mgkn krna satu visi dan mgharapkan keluarga islami serta gerak dakwah bersama. Pdhl jka ikhwan/akhwat memilih pasangan awam,bukankah akan memperluas dakwah?" Memang sebuah pendapat pasti ada yang pro dan kontra. Tapi saya sendiri setuju dengan pendapat itu. Kalau hanya ingin meperluas dakwah tidak harus kita menikahi seorang ustadz/ustadzah aja bukan ? Bagaimana dakwah kita bisa menyebar jika seperti itu. Menikah pun juga bisa menjadi bagian dari dakwah menurut saya. Jika kita menikahi orang awam yang pengetahuan tentang agamanya pas pasan, saya rasa ini bisa menjadi ladang dakwah kita yang besar. Dengan dia pun kita juga bisa melahirkan banyak mujahid-mujahid yang nantinya dapat berjuang dijalan dakwah. Anak yang lahir dari keluarga paham agama pun belum tentu akan menjadi "tentara" dakwah, begitu juga anak dari pasangan orang awam agama, mereka juga bisa melahirkan anak-anak yang rela mati demi agama. Saya pun sudah banyak melihat bukti semacam itu.

Terserah sih, ini hanya sekedar pendapat. Toh pilihan tetap ada ditangan kita masing-masing. Yang jelas saya sendiri lebih memilih sama-sama belajar menjadi lebih baik, sama-sama belajar untuk memperkuat islam, dan sama-sama belajar untuk meningkatkan kadar cinta kepada Allah. Saya tidak mau hanya dibimbing, tapi sesekali saya pun ingin membimbing. Bukankah belajar bersama itu lebih indah, tak ada yang unggul dan tak ada yang rendah. Sekali lagi hidup adalah p i l i h a n !! dan kita sendiri nantinya yang akan mempertanggung jawabkannya. . . Saya selalu meyakini bahwa ikutilah kata hati, karena hati kita tak mungkin salah... 


NB: menurut pandangan saya, ikhwan dan akhwat adalah orang yang benar-benar paham dengan agama dan sudah mengerti batasan-batasan dari seorang ikhwan dan akhwat. itulah alasan kenapa dalam tulisan saya  membedakan antara ikhwan,akhwat, dan orang awam.

Jazakillah, semoga bermanfaat ... :)


2 komentar:

QonitaAnshory mengatakan...

syukron jazakillah khoer... saya jadi lebih bersemangat... pilihan saya menikah dengan orang awam selalu membuat saya minder.. apalagi tuntutan dari teman2 harokah agar suami saya juga halaqoh kadang membuat saya stress dan menekan ruang gerak saya..tapi alhamdulillah saya sudah menarik benang merahnya dan menaruh keyakinan di hati.. insyaallah saya akan lebih kuat dan tidak labil lagi.....

Azahra Bustan mengatakan...

waiyaki.. saya yakin, Allah menuntun kita lewat hati..insyaallah :)
semangat dakwah ukhti :)

Posting Komentar

Foto Saya
Azahra Bustan
Lihat profil lengkapku

Pengunjung

Blog Archive

Visitor

Flag Counter

Follow Me

Diberdayakan oleh Blogger.